Knowledge Management

September 7th, 2008 by maha

Contohkm

Lentera Jiwa

September 7th, 2008 by maha

Lentera Jiwa - Nugie

lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
sgala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
tersesatkah aku disamudra hidupku

kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirku

reff:
kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku

Gede Prama : Jejak-Jejak Makna: Memasuki Kembali Rumah Kebahagiaan

September 7th, 2008 by maha

11

Sinopsis Buku:
Hidup
bagaikan berjalan di gurun pasir dalam kegelapan. Bila ingin
mengetahhui yang sebelumnya lewat apakah sapi atau manusia, kita
melihat jejak-jejak kaki yang tersisa. Di gurun pasir, ada jejak-jejak
kaki lengkap dengan maknanya. Demikian juga dengan hidup, ia menyisakan
jejak-jejak makna. Sayangnya, jejak-jejak makna ini hanya bisa dilihat,
dibaca, dan dimaknai oleh mereka yang telah membuka jendela
kepekaan.Bila jendela kepekaan telah terbuka, jengankan kelebihan,
kekurangan yang paling memalukan sekalipun bisa meninggalkan
jejak-jejak makna yang berguna.

Jangankan lahir cantik dan menarik, lahir jelek sekalipun bisa
menyingkirkan jejak-jejak makna yang amat berarti. Jangankan sukses,
gagal pun bisa membentuk pola-pola jejak makna yang berharga.Indahnya,
ketika jejak-jejak makna ini terlihat, terbaca, dan diikuti dengan
tekun , ada sejumlah pintu kehidupan terbuka. Salah satunya adalah
pintu kebahagiaan! Seperti Ibu yang lama ditinggalkan putri
kesayangannnya, rumah kebahagiaan membukakan pintu, melemparkan
senyuman, mengundang dekapan dan pelukan: "Ibu rindu kamu, selamat
datang di rumah!"

Komaruddin Hidayat : Psikologi Kematian, mengubah ketakutan menjadi optimisme

September 7th, 2008 by maha

Wmphp
Rasa takut itu berakar pada keinginan
laten untuk selalu hidup nyaman, dan rasa takut itu kemudian menjalar
kepada bebagai wilayah aktifitas manusia. Lebih jauh lagi, rasa takut
itu kemudian melahirkan anak-pinak, yaitu takut akan bayang-bayang
ketakutan itu sendiri sehingga muncul ungkapan, musuh terbesar dan
terdekat kita adalah rasa takut itu sendiri yang berakar kuat dalam
diri. Esenseinya ialah sikap penolakan akan kematian karena kematian
itu selalu diidentikkan dengan tragedi, sakit, ketidak berdayaan,
kehilangan dan kebangkrutan hidup
~ Komaruddin Hidayat
"Buku Saudara Komaruddin Hidayat ini, dapat membantu pembacanya bukan
saja untuk memahami ‘psikologi kematian’, tetapi juga berbicara tentang
sedikit rahasianya; dan yang lebih penting lagi menuntun kita
‘menjemput’ maut dengan hati yang tenang."

M. Quraish Shihab

Membahas soal kematian bisa menimbulkan sebuah pemberontakan yang
menyimpan kepedihan pada setiap jiwa manusia; yaitu kesadaran dan
keyakinan bahwa mati pasti akan tiba serta punahlah semua yang dicintai
dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran ini lalu memunculkan sebuah
proses berupa penolakan bahwa masing-masing kita tidak mau mati. Setiap
orang berusaha menghindari semua jalan yang mendekatkan ke pintu
kematian.

Banyak orang bersikap seperti itu karena tak memahami apa
sesungguhnya kematian. Kematian bagi mereka adalah misteri. Sesuatu
yang tak dikenal memang cenderung untuk ditolak. Karena itu, buku ini
mengajak pembaca untuk memahami lebih jauh apa itu kematian.

Buku ini juga telah meruntuhkan bayang-bayang kematian yang amat
menakutkan itu. Ternyata, seperti dijelaskan buku ini, kematian adalah
sesuatu yang indah. Menyelami lautan hakikatnya membuat hidup kita
semakin optimis.

Berikan yang terbaik

September 7th, 2008 by maha

Well, mungkin aku belum bisa berbuat banyak untuk membalas semuanya saat ini. Masih belum mampu. Tapi setidaknya, setiap bangun pagi aku masih terus memulai kehidupanku untuk memberikan yang terbaik.

Berhenti Takut Gagal

September 3rd, 2008 by maha

aku sudah berhenti takut pada kegagalan. Setelah aku sadar bahwa masa depan tidak perlu dikhawatirkan selama kita sungguh sungguh ikhtiar dan berdoa. Serius belajar dari kesalahan. Alasannya sederhana, ternyata kemuraman masa lalu yang kita sesali sampe sesek sendiri justru bikin kita tersenyum di msa sekarang. Gagal ternyata tidak sesuram itu. karena kita belajar menjadi semakin kuat karenanya. Sebab kita yakin Tuhan akan mengurus hambaNYA yang sungguh sungguh.

Permulaan

July 10th, 2008 by maha

Kita tidak mengetahui apa yang kita tidak tahu,

Kita tidak akan bertindak terhadap apa yang kita tidak tahu,

Kita tidak akan mengetahui sampai kita mencari tahu,

Kita tidak akan mencari tahu untuk apa yang kita tidak menanyakan,

Kita tidak menanyakan apa yang kita tidak ukur,

Dengan demikian, maka kita hanya akan tetap menjadi tidak tahu…

(Kredo Six Sigma)